A WOMEN IS A MOTHER

(Tulisan ini diikut sertakan dalam  lomba menulis artikel, yang diselenggarakan Muslimah Centre  Darut Tauhid Bandung 2010, meraih juara 3

Pendahuluan

Bebicara tentang perempuan, seperti mengambil air di samudra lautan, tidak akan ada habisnya, selalu saja ada sisi yang menarik untuk dibahas. Dalam pandangan Islam, perempuan atau wanita mempunyai kedudukan yang sangat mulia. Perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki, hanya saja kaum laki-laki mempunyai derajat kekuasaan di atas perempuan. Allah menciptakan makhluk di muka bumi ini sudah lengkap dengan ketentuan kodratnya. Dan dengan kodratnya tersebut, manusia telah diperintahkan agar senantiasa beramal sesuai dengan kadar kemampuannya. Begitupun dengan perempuan, sesuai dengan kodratnya, ia merupakan makhluk Allah yang tetap mempunyai tugas dan tanggungjawab. Oleh karena itu, sebagai seorang perempuan, kita harus mampu memposisikan diri secara tepat.

Dalam ajaran Islam perempuan mempunyai beberapa posisi penting dalam kehidupan, diantaranya: sebagai hamba Allah, sebagai istri dari suaminya, sebagai ibu dari anak-anaknya, serta sebagai anggota masyarakat. Sebagai seorang ibu, perempuan tentunya banyak berpengaruh dalam proses perkembangan anak.

Di sisi lain, dewasa ini banyak hal yang mempengaruhi perilaku anak-anak, yang pada akhirnya akan menyeret mereka pada dekadensi moral dan ketidak berdayaan kita sebagai orangtua dalam mendidik dan mengarahkan mereka.

Dengan melihat fenomena tersebut, maka sepantasnya umat Islam dalam hal ini para ibu khawatir akan masa depan putra-putrinya. Allah SWT berfrman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.(QS. An-Nisa [3]: 9)

 Perempuan: Ibu dari anak-anaknya

Allah swt berfirman:

إِنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu, di sisi Allah lah pahala yang besar (At-Taghabun 15-16)

Dari ayat tersebut maka dapat kita fahami bahwa anak adalah amanat, hatinya yang suci merupakan permata yang mahal. Apabila ia diajarkan dan dibiasakan pada sesuatu yang baik, maka ia akan tumbuh dengan baik dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Namun sebaliknya apabila seorang anak dibiasakan pada sesuatu yang tidak baik, maka niscaya ia tidak akan ubahnya seperti binatang yang nantinya akan sengsara dan binasa.

Maka pantaslah sebuah hadits menyatakan bahwa orang yang paling utama mendapatkan bakti dari anak-anaknya adalah seorang ibu, sebagaimana sabdanya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ وَقَالَ ابْنُ شُبْرُمَةَ وَيَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ مِثْلَهُ

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “kemudian siapa lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dia menjawab: “Kemudian ayahmu.” Ibnu Syubrumah dan Yahya bin Ayyub berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah hadits seperti di atas.” (HR Bukhori)

Figur seorang ibu sangatlah penting bagi perkembangan anak-anak yang kelak akan melanjutkan kehidupan pada masa yang akan datang, sehingga melahirkan generasi tafaquh fi al-dien. Seorang ibu diharapkan bisa mewarnai anak-anaknya dalam berbagai aspek, sehingga selayaknya sebagai seorang ibu, kita juga mampu:

1.      Sebagai sahabat…

Seorang ibu harus menjadi sahabat bagi anak-anaknya, semakin dekat ibu dengan anak, semakin baiklah perkembangan kepribadian anak. Kualitas hubungan antara seorang ibu dan anak merupakan hal penting untuk mengantarkan anak menuju proses kedewasaan. Dalam hal ini perhatian yang optimal dapat diwujudkan dalam bentuk sikap, kehangatan dan kepekaan ibu pada apa yang terjadi pada anak. Membangun kedekatan emosional dapat dilakukan melalui sentuhan, pelukan, mendengarkan ketika anak berbicara, serta senantiasa menumbuhkan rasa aman dan nyaman. Kesemua hal tersebut tentunya sangat berperan bagi pembentukan mental dan kepribadian anak.

2.      Sebagai narasumber yang baik…..

Seorang ibu harus mampu menjadi nara sumber yang baik dalam menginternalisasi nilai-nilai agama  bagi anak, yakni bukan sekedar Transfer of knowledge (alih pengetahuan) dan peningkatan motor skill (keahlian dalam keterampilan beragama) melainkan perlunya penanaman sikap dan pembiasaan  sehingga menjadi personality yang utuh sebagai seorang muslim, melalui upayanya meberikan  pemahaman tentang aspek keimanan, aspek moral, dan aspek sosial.

a.             Menanamkan aspek keimanan

Anak harus dikenalkan dengan atruran Islam yakni segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem atau aturan Allah seperti aqidah, ibadah, akhlak, perundang-undangan, peraturan dan hukum.

Untuk merealisasikan tanggungjawab tersebut, upaya yang dapat dilakukan oleh seorang ibu terhadap anak adalah dengan cara menumbuhkan dasar-dasar pemahaman keagamaan sejak usia dini. Tentu saja hal ini bukan hanya sebatas memberikan pemahaman saja, melainkan juga contoh tauladan dan pengamalan langsung nilai-nilai keimanan oleh orangtua, yang kemudian diiikuti oleh anak. Jika sejak kecil anak tumbuh dan berkembang dengan senantiasa berlandaskan iman kepada Allah dan senantiasa terdidik untuk takut, ingat dan pasrah, meminta pertolongan dan berserah diri kepada-Nya, maka anak akan merasa memiliki terhadap Islam, terbiasa dengan karakter yang positif, sehingga senantiasa berada pada rel ajaran agama.

Upaya menginternalisasikan aspek keimanan kepada anak, hendaknya senantiasa di dasarkan atas wasiat Rasulullah, antara lain: memberikan nama yang baik, mengenalkan hukum halal dan haram, mengajarkan ibadah sejak usia dini, anjuran mencintai Rasul, keluarganya dan membaca al-Qur’an

b.             Menanamkan aspek moral

Islam sangat memperhatikan pendidikan anak dari aspek moral, agar menjadi petunjuk dalam membentuk karakter anak menjadi pribadi yang sempurna. Rasulullah bersabda:

و قال على بن طالب : علموا أولادكم الخيروأدبوهم رواه  عبد الرزق

 Ali bin Abi Thalib berkata: Ajarilah anak-anak kalian dengan kebaikan dan didiklah mereka (HR Abdu Razaq)

Untuk mencapai pendidikan moral yang baik, orangtua  memiliki tanggungjawab yang sangat besar dalam memberikan pendidikan moral. Untuk itu, orang tua dituntut untuk :

1)      Senantiasa memperhatikan, mengawasi, tentang apa yang dilakukan anak secara kontinue dan konsisten kemudian bersama-sama mengevaluasinya dengan penuh kasih sayang

2)      Memberikan contoh dengan membiasakan perbuatan yang terpuji, seperti dapat dipercaya, istiqamah, menghargai orangtua, menghormati tamu, berbuat baik pada tetangga, serta, mencintai orang lain.

3)      Mendidik anak untuk selalu berprasangka positif pada diri dan orang lain, dan hindari berpikir negatif  agar anak dapat menghargai dirinya juga orang lain

4)      Menunjukkan pada anak, mana yang harus dilakukan sebagai perbutan baik dan mana yang harus dijauhi sebagai perbuatan yang buruk.

c.              Menanamkan aspek sosial

Tanggung jawab sosial ini merupakan tanggungjawab terpenting bagi orangtua  dalam mempersiapkan anak, sebab aspek sosial ini merupakan manifestasi perilaku dan watak yang mendidik anak untuk menjalankan kewajiban, tatakrama, kritik sosial, keseimbangan intelektual, politik dan pergaulan bersama orang lain.

Diantara upaya yang dapat dilakukan orang tua dalam rangka menginternalisasisan aspek sosial pada anak adalah: penanaman kepribadian, akhlak terhadap orang lain, tatakrama dalam kehidupan, serta pergaulan yang positif.

C.            Kesimpulan

Figur seorang ibu sangatlah penting bagi perkembangan anak-anak yang kelak akan melanjutkan kehidupan pada masa yang akan datang, sehingga melahirkan generasi tafaquh fi al-dien. Seorang ibu diharapkan bisa mewarnai anak-anaknya dalam berbagai aspek, sehingga selayaknya sebagai seorang ibu, kita juga mampu: sebagai sahabat bagi ank-anaknya, serta mampu menjadi nara sumber yang baik dalam menginternalisasi nilai-nilai agama  bagi anak, yakni bukan sekedar Transfer of knowledge (alih pengetahuan) dan peningkatan motor skill (keahlian dalam keterampilan beragama) melainkan perlunya penanaman sikap dan pembiasaan  sehingga menjadi personality yang utuh sebagai seorang muslim, melalui upayanya meberikan  pemahaman tentang aspek keimanan, aspek moral, dan aspek sosial. Ketiga aspek itu ditanamkan seacara berimbang dengan menciptakan situasi dan tradisi yang tercipta melalui pembiasaan pengamalan keagamaan ini akan menjadi sebuah karakter dan sifat anak yang mulia, sehingga akan menciptakan pribadi muslim yang sempurna


 

BIODATA PENULIS

 

1. Judul A WOMEN IS A MOTHER
2. Identitas Peneliti :a. Nama Lengkapb.

b. Jenis Kelamin

c. Tempat/Tgl Lahir

d Alamat Rumah

e. Telp/ HP

f. email

Iis Suryatini/ Ummi Syifa

Perempuan

Cihaurbeuti, 18 Januari 1974

Jl. Moch. Ramdan No 69  Rt 05/12 Desa Mekarsari Kec. Ciparay Kab. Bandung

022 (022) 70450920/ 081321086077

ummiazkis@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: