A WOMEN IS A MOTHER

(Tulisan ini diikut sertakan dalam  lomba menulis artikel, yang diselenggarakan Muslimah Centre  Darut Tauhid Bandung 2010, meraih juara 3

Pendahuluan

Bebicara tentang perempuan, seperti mengambil air di samudra lautan, tidak akan ada habisnya, selalu saja ada sisi yang menarik untuk dibahas. Dalam pandangan Islam, perempuan atau wanita mempunyai kedudukan yang sangat mulia. Perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki, hanya saja kaum laki-laki mempunyai derajat kekuasaan di atas perempuan. Allah menciptakan makhluk di muka bumi ini sudah lengkap dengan ketentuan kodratnya. Dan dengan kodratnya tersebut, manusia telah diperintahkan agar senantiasa beramal sesuai dengan kadar kemampuannya. Begitupun dengan perempuan, sesuai dengan kodratnya, ia merupakan makhluk Allah yang tetap mempunyai tugas dan tanggungjawab. Oleh karena itu, sebagai seorang perempuan, kita harus mampu memposisikan diri secara tepat.

Dalam ajaran Islam perempuan mempunyai beberapa posisi penting dalam kehidupan, diantaranya: sebagai hamba Allah, sebagai istri dari suaminya, sebagai ibu dari anak-anaknya, serta sebagai anggota masyarakat. Sebagai seorang ibu, perempuan tentunya banyak berpengaruh dalam proses perkembangan anak.

Di sisi lain, dewasa ini banyak hal yang mempengaruhi perilaku anak-anak, yang pada akhirnya akan menyeret mereka pada dekadensi moral dan ketidak berdayaan kita sebagai orangtua dalam mendidik dan mengarahkan mereka.

Dengan melihat fenomena tersebut, maka sepantasnya umat Islam dalam hal ini para ibu khawatir akan masa depan putra-putrinya. Allah SWT berfrman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.(QS. An-Nisa [3]: 9)

 Perempuan: Ibu dari anak-anaknya

Allah swt berfirman:

إِنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu, di sisi Allah lah pahala yang besar (At-Taghabun 15-16)

Dari ayat tersebut maka dapat kita fahami bahwa anak adalah amanat, hatinya yang suci merupakan permata yang mahal. Apabila ia diajarkan dan dibiasakan pada sesuatu yang baik, maka ia akan tumbuh dengan baik dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Namun sebaliknya apabila seorang anak dibiasakan pada sesuatu yang tidak baik, maka niscaya ia tidak akan ubahnya seperti binatang yang nantinya akan sengsara dan binasa.

Maka pantaslah sebuah hadits menyatakan bahwa orang yang paling utama mendapatkan bakti dari anak-anaknya adalah seorang ibu, sebagaimana sabdanya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ وَقَالَ ابْنُ شُبْرُمَةَ وَيَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ مِثْلَهُ

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “kemudian siapa lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dia menjawab: “Kemudian ayahmu.” Ibnu Syubrumah dan Yahya bin Ayyub berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah hadits seperti di atas.” (HR Bukhori)

Figur seorang ibu sangatlah penting bagi perkembangan anak-anak yang kelak akan melanjutkan kehidupan pada masa yang akan datang, sehingga melahirkan generasi tafaquh fi al-dien. Seorang ibu diharapkan bisa mewarnai anak-anaknya dalam berbagai aspek, sehingga selayaknya sebagai seorang ibu, kita juga mampu:

1.      Sebagai sahabat…

Seorang ibu harus menjadi sahabat bagi anak-anaknya, semakin dekat ibu dengan anak, semakin baiklah perkembangan kepribadian anak. Kualitas hubungan antara seorang ibu dan anak merupakan hal penting untuk mengantarkan anak menuju proses kedewasaan. Dalam hal ini perhatian yang optimal dapat diwujudkan dalam bentuk sikap, kehangatan dan kepekaan ibu pada apa yang terjadi pada anak. Membangun kedekatan emosional dapat dilakukan melalui sentuhan, pelukan, mendengarkan ketika anak berbicara, serta senantiasa menumbuhkan rasa aman dan nyaman. Kesemua hal tersebut tentunya sangat berperan bagi pembentukan mental dan kepribadian anak.

2.      Sebagai narasumber yang baik…..

Seorang ibu harus mampu menjadi nara sumber yang baik dalam menginternalisasi nilai-nilai agama  bagi anak, yakni bukan sekedar Transfer of knowledge (alih pengetahuan) dan peningkatan motor skill (keahlian dalam keterampilan beragama) melainkan perlunya penanaman sikap dan pembiasaan  sehingga menjadi personality yang utuh sebagai seorang muslim, melalui upayanya meberikan  pemahaman tentang aspek keimanan, aspek moral, dan aspek sosial.

a.             Menanamkan aspek keimanan

Anak harus dikenalkan dengan atruran Islam yakni segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem atau aturan Allah seperti aqidah, ibadah, akhlak, perundang-undangan, peraturan dan hukum.

Untuk merealisasikan tanggungjawab tersebut, upaya yang dapat dilakukan oleh seorang ibu terhadap anak adalah dengan cara menumbuhkan dasar-dasar pemahaman keagamaan sejak usia dini. Tentu saja hal ini bukan hanya sebatas memberikan pemahaman saja, melainkan juga contoh tauladan dan pengamalan langsung nilai-nilai keimanan oleh orangtua, yang kemudian diiikuti oleh anak. Jika sejak kecil anak tumbuh dan berkembang dengan senantiasa berlandaskan iman kepada Allah dan senantiasa terdidik untuk takut, ingat dan pasrah, meminta pertolongan dan berserah diri kepada-Nya, maka anak akan merasa memiliki terhadap Islam, terbiasa dengan karakter yang positif, sehingga senantiasa berada pada rel ajaran agama.

Upaya menginternalisasikan aspek keimanan kepada anak, hendaknya senantiasa di dasarkan atas wasiat Rasulullah, antara lain: memberikan nama yang baik, mengenalkan hukum halal dan haram, mengajarkan ibadah sejak usia dini, anjuran mencintai Rasul, keluarganya dan membaca al-Qur’an

b.             Menanamkan aspek moral

Islam sangat memperhatikan pendidikan anak dari aspek moral, agar menjadi petunjuk dalam membentuk karakter anak menjadi pribadi yang sempurna. Rasulullah bersabda:

و قال على بن طالب : علموا أولادكم الخيروأدبوهم رواه  عبد الرزق

 Ali bin Abi Thalib berkata: Ajarilah anak-anak kalian dengan kebaikan dan didiklah mereka (HR Abdu Razaq)

Untuk mencapai pendidikan moral yang baik, orangtua  memiliki tanggungjawab yang sangat besar dalam memberikan pendidikan moral. Untuk itu, orang tua dituntut untuk :

1)      Senantiasa memperhatikan, mengawasi, tentang apa yang dilakukan anak secara kontinue dan konsisten kemudian bersama-sama mengevaluasinya dengan penuh kasih sayang

2)      Memberikan contoh dengan membiasakan perbuatan yang terpuji, seperti dapat dipercaya, istiqamah, menghargai orangtua, menghormati tamu, berbuat baik pada tetangga, serta, mencintai orang lain.

3)      Mendidik anak untuk selalu berprasangka positif pada diri dan orang lain, dan hindari berpikir negatif  agar anak dapat menghargai dirinya juga orang lain

4)      Menunjukkan pada anak, mana yang harus dilakukan sebagai perbutan baik dan mana yang harus dijauhi sebagai perbuatan yang buruk.

c.              Menanamkan aspek sosial

Tanggung jawab sosial ini merupakan tanggungjawab terpenting bagi orangtua  dalam mempersiapkan anak, sebab aspek sosial ini merupakan manifestasi perilaku dan watak yang mendidik anak untuk menjalankan kewajiban, tatakrama, kritik sosial, keseimbangan intelektual, politik dan pergaulan bersama orang lain.

Diantara upaya yang dapat dilakukan orang tua dalam rangka menginternalisasisan aspek sosial pada anak adalah: penanaman kepribadian, akhlak terhadap orang lain, tatakrama dalam kehidupan, serta pergaulan yang positif.

C.            Kesimpulan

Figur seorang ibu sangatlah penting bagi perkembangan anak-anak yang kelak akan melanjutkan kehidupan pada masa yang akan datang, sehingga melahirkan generasi tafaquh fi al-dien. Seorang ibu diharapkan bisa mewarnai anak-anaknya dalam berbagai aspek, sehingga selayaknya sebagai seorang ibu, kita juga mampu: sebagai sahabat bagi ank-anaknya, serta mampu menjadi nara sumber yang baik dalam menginternalisasi nilai-nilai agama  bagi anak, yakni bukan sekedar Transfer of knowledge (alih pengetahuan) dan peningkatan motor skill (keahlian dalam keterampilan beragama) melainkan perlunya penanaman sikap dan pembiasaan  sehingga menjadi personality yang utuh sebagai seorang muslim, melalui upayanya meberikan  pemahaman tentang aspek keimanan, aspek moral, dan aspek sosial. Ketiga aspek itu ditanamkan seacara berimbang dengan menciptakan situasi dan tradisi yang tercipta melalui pembiasaan pengamalan keagamaan ini akan menjadi sebuah karakter dan sifat anak yang mulia, sehingga akan menciptakan pribadi muslim yang sempurna


 

BIODATA PENULIS

 

1. Judul A WOMEN IS A MOTHER
2. Identitas Peneliti :a. Nama Lengkapb.

b. Jenis Kelamin

c. Tempat/Tgl Lahir

d Alamat Rumah

e. Telp/ HP

f. email

Iis Suryatini/ Ummi Syifa

Perempuan

Cihaurbeuti, 18 Januari 1974

Jl. Moch. Ramdan No 69  Rt 05/12 Desa Mekarsari Kec. Ciparay Kab. Bandung

022 (022) 70450920/ 081321086077

ummiazkis@yahoo.com

KARTINI MASA KINI DAN PENDIDIKAN

(sebuah catatan kecil menjelang peringatan hari Kartini, 21 April 2012, oleh Iis Suryatini)

Kartini…? Dialah sedikit dari pahlawan perempuan di Indonesia di tengah dominasi pahlawan laki-laki. Kaitannya dengan perempuan Indonesia masa kini, khususnya dalam dunia pendidikan, sudah sepantasnya perempuan Indonesia masa kini mencontoh perjuangan RA Kartini, sehingga kita mampu menjadi kartini-kartini masa kini.. Melihat perjuangan RA Kartini dalam dunia pendidikan menjadi sangat menarik untuk diperbincangkan. Semangat tanpa kenal lelah Kartini untuk membangun sekolah-sekolah patut kita contoh. Pemikirannya akan pentingnya pendidikan untuk kaum perempuan sudah selayaknya kita jadikan referensi untuk pengembangan dunia pendidikan kita saat ini. Sehingga tokoh pendidikan saat ini tidak hanya dihiasi oleh kaum adam saja.

Saatnya perempuan-perempuan masa kini sebagai calon-calon pengganti RA Kartini mulai berfikir untuk memajukan dunia pendidikan Indonesia saat ini, yang semakin karut marut oleh pemikiran pragmatisme yang mulai membudidaya didunia pendidikan Indonesia. Sehingga apa yang diperjuangkan Kartini dahulu tidak sia-sia. Jika Kartini dulu saja bisa yang berjuang dari hadangan kolonialisme, tentunya tidak ada alasan perempuan sekarang tidak bisa melanjutkan perjuangan Kartini.

Mari buktikan jika perempuan-perempuan Indonesia mampu mewarisi semangat Kartini khususnya dalam bidang pendidikan, sehingga mampu membawa setetes penyegaran ditengah dahaganya kualitas pendidikan Indonesia yang sangat memprihatinkan oleh pola fikir pragmatisme. Mari saatnya perempuan-perempuan Indonesia meniru RA Kartini yang berjuang dengan ikhlas tanpa pamprih, yang didasari pada cita-cita suci bagi Indonesia. Bagi pendidikan Indonesia khususnya, dengan tidak melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan. Insya Allah!!!

Bahan ajar Asmaul husna

Silahkan download di sini

http://imzupload.com/ijwlyphdt1ff/Bahan_Ajar_asmaul_Husna_untuk_kls_VII.ppt.h

iissmpn1ciparay.wordpress.com

Presentasi SKI

Slide ini merupakan bahan presentasi pada materi problematika pembelajaran sirah nabawi di SMP

Download di alamat http://imzupload.com/rrdjwapo8art/PRES_SKI_DAN_PROBLEMTI.pptx.html

RASULULLAH BERSAMA KHADIJAH

Bersama Khadijah

ChrysanthemumMuhammad digambarkan sebagai seorang berperawakan sedang. Tidak kecil dan tidak besar. Rambutnya hitam berombak dengan cambang lebar. Matanya hitam, roman mukanya seperti selalu merenung. Ia gemar pula berhumor, namun tak pernah sampai tertawa terbahak yang membuat gerahamnya tampak. Ia juga tak pernah meledak marah. Kemarahannya hanya terlihat pada raut muka yang serius serta keringat kecilnya di dahi. Muhammad inilah yang dipertimbangkan Khadijah sebagai suaminya.

Lagi

SEJARAH AWAL DAKWAHNYA NABI MUHAMMAD SAW

Awal Dakwah

Muhammad tertidur pulas. Saat itu, Khadijah keluar rumah menemui misannya, Waraqah bin Naufal, seorang pemeluk Nasrani yang saleh. Diceritakannya peristiwa yang dialami Muhammad di Gua Hira. Waraqah membesarkan hati Khadijah. Ia meyakini peristiwa itu adalah pengangkatan Muhammad sebagai Rasul. Sementara itu, dalam tidurnya, Muhammad kembali menggigil. Jibril datang menyampaikan wahyu berikutnya. “Wahai yang berselimut.! Bangunlah dan sampaikan peringatan. Agungkan Tuhanmu, sucikan pakaianmu, dan hindarkan darimu dosa. Janganlah kau memberi karena ingin menerima lebih banyak. Demi Tuhanmu, tabahkan hatimu.”

Lagi

PANDUAN PENGEMBANGAN INDIKATOR

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berdasarkan Undang-Undang (UU) nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) maka Pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 22 dan nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Sedangkan standar lainnya ditetapkan melalui Permendiknas nomor 13, 16, 19, 20, 24 dan 41 Tahun 2007 tentang tenaga pendidik dan kependidikan, pengelolaan, penilaian,sarana prasarana, dan proses.

SNP merupakan acuan dan pedoman dalam mengembangkan kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pemerintah tidak lagi menetapkan kurikulum seperti kurikulum 1984, 1994 dan sebagainya. Pemerintah hanya menetapkan SNP yang menjadi acuan sekolah dalam mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sesuai dengan karakteristik, kebutuhan potensi peserta didik, masyarakat dan lingkungannya.

Pengembangan KTSP berdasarkan SNP memerlukan langkah dan strategi yang harus dikaji berdasarkan analisis yang cermat dan teliti. Analisis dilakukan terhadap tuntutan kompetensi yang tertuang dalam rumusan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD); analisis mengenai kebutuhan dan potensi peserta didik, masyarakat, dan lingkungan; serta analisis peluang dan tantangan dalam memajukan pendidikan pada masa yang akan datang dengan dinamika dan kompleksitas yang semakin tinggi.

Penjabaran SK dan KD sebagai bagian dari pengembangan KTSP dilakukan melalui pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Silabus merupakan penjabaran lebih lanjut dari SK dan KD menjadi indikator, kegiatan pembelajaran, materi pembelajaran dan penilaian. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu KD yang ditetapkan dalam SI dan telah dijabarkan dalam silabus.

Berdasarkan uraian di atas, maka pengembangan indikator merupakan langkah strategis dalam peningkatan kualitas pembelajaran di kelas dan pencapaian kompetensi peserta didik. Dengan demikian diperlukan panduan pengembangan indikator yang dapat dijadikan pedoman bagi guru dan sekolah dalam mengembangkan SK dan KD tiap mata pelajaran.

B. Tujuan

Penyusunan panduan ini bertujuan:

  1. memberikan pemahaman lebih luas kepada guru dalam mengembangkan indikator kompetensi berdasarkan tuntutan KD dan SK;
  2. memotivasi guru untuk mengembangkan kurikulum di tingkat sekolah guna mencapai kompetensi, minimal sesuai dengan SI dan SKL;
  3. mendorong pengembangan kurikulum lebih lanjut untuk mencapai kompetensi, melebihi SI dan SKL sehingga mutu pendidikan diharapkan meningkat;
  4. mendorong guru dan sekolah terus mengembangkan kurikulum melalui penyusunan dan pengembangan indikator yang digunakan sebagai acuan pembelajaran dan penilaian.

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup pengembangan indikator mencakup pengertian dan fungsi indikator dalam KTSP, mekanisme, dan implementasi dalam pengembangan instrumen penilaian.

BAB II

INDIKATOR DALAM PENGEMBANGAN

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

A. Pengertian

Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.

Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan:

1. tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam KD;

2. karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah;

3. potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/ daerah.

Dalam mengembangkan pembelajaran dan penilaian, terdapat dua rumusan indikator, yaitu:

1. Indikator pencapaian kompetensi yang dikenal sebagai indikator;

2. Indikator penilaian yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal yang di kenal sebagai indikoator soal.

Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja operasional. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.

B. Fungsi Indikator

Indikator memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam mengembangkan pencapaian kompetensi berdasarkan SK-KD. Indikator berfungsi sebagai berikut :

1. Pedoman dalam mengembangkan materi pembelajaran

Pengembangan materi pembelajaran harus sesuai dengan indikator yang dikembangkan. Indikator yang dirumuskan secara cermat dapat memberikan arah dalam pengembangan materi pembelajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, potensi dan kebutuhan peserta didik, sekolah, serta lingkungan.

2. Pedoman dalam mendesain kegiatan pembelajaran

Desain pembelajaran perlu dirancang secara efektif agar kompetensi dapat dicapai secara maksimal. Pengembangan desain pembelajaran hendaknya sesuai dengan indikator yang dikembangkan, karena indikator dapat memberikan gambaran kegiatan pembelajaran yang efektif untuk mencapai kompetensi. Indikator yang menuntut kompetensi dominan pada aspek prosedural menunjukkan agar kegiatan pembelajaran dilakukan tidak dengan strategi ekspositori melainkan lebih tepat dengan strategi discovery-inquiry.

3. Pedoman dalam mengembangkan bahan ajar

Bahan ajar perlu dikembangkan oleh guru guna menunjang pencapaian kompetensi peserta didik. Pemilihan bahan ajar yang efektif harus sesuai tuntutan indikator sehingga dapat meningkatkan pencapaian kompetensi secara maksimal.

4. Pedoman dalam merancang dan melaksanakan penilaian hasil belajar

Indikator menjadi pedoman dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi hasil belajar, Rancangan penilaian memberikan acuan dalam menentukan bentuk dan jenis penilaian, serta pengembangan indikator penilaian. Pengembangan indikator penilaian harus mengacu pada indikator pencapaian yang dikembangkan sesuai dengan tuntutan SK dan KD.


BAB III

MEKANISME PENGEMBANGAN INDIKATOR

A. Menganalisis Tingkat Kompetensi

dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Langkah pertama pengembangan indikator adalah menganalisis tingkat kompetensi dalam SK dan KD. Hal ini diperlukan untuk memenuhi tuntutan minimal kompetensi yang dijadikan standar secara nasional. Sekolah dapat mengembangkan indikator melebihi standar minimal tersebut.

Tingkat kompetensi dapat dilihat melalui kata kerja operasional yang digunakan dalam SK dan KD. Tingkat kompetensi dapat diklasifikasi dalam tiga bagian, yaitu tingkat pengetahuan, tingkat proses, dan tingkat penerapan. Kata kerja pada tingkat pengetahuan lebih rendah dari pada tingkat proses maupun penerapan. Tingkat penerapan merupakan tuntutan kompetensi paling tinggi yang diinginkan. Klasifikasi tingkat kompetensi berdasarkan kata kerja yang digunakan disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Tingkat Kompetensi Kata Kerja Operasional

No

Klasifikasi Tingkat Kompetensi

Kata Kerja Operasional yang Digunakan

1

Berhubungan dengan mencari keterangan (dealing with retrieval)

1. Mendeskripsikan (describe)

2. Menyebutkan kembali (recall)

3. Melengkapi (complete)

4. Mendaftar (list)

5. Mendefinisikan (define)

6. Menghitung (count)

7. Mengidentifikasi (identify)

8. Menceritakan (recite)

9. Menamai (name)

2

Memproses (processing)

1. Mensintesis (synthesize)

2. Mengelompokkan (group)

3. Menjelaskan (explain)

4. Mengorganisasikan (organize)

5. Meneliti/melakukan eksperimen (experiment)

6. Menganalogikan (make analogies)

7. Mengurutkan (sequence)

8. Mengkategorikan (categorize)

9. Menganalisis (analyze)

10. Membandingkan (compare)

11. Mengklasifikasi (classify)

12. Menghubungkan (relate)

13. Membedakan (distinguish)

14. Mengungkapkan sebab (state causality)

3

Menerapkan dan mengevaluasi

1. Menerapkan suatu prinsip (applying a principle)

2. Membuat model (model building)

3. Mengevaluasi (evaluating)

4. Merencanakan (planning)

5. Memperhitungkan/meramalkan kemungkinan (extrapolating)

6. Memprediksi (predicting)

7. Menduga/Mengemukakan pendapat/ mengambil kesimpulan (inferring)

8. Meramalkan kejadian alam/sesuatu (forecasting)

9. Menggeneralisasikan (generalizing)

10. Mempertimbangkan /memikirkan kemungkinan-kemungkinan (speculating)

11. Membayangkan /mengkhayalkan/ mengimajinasikan (Imagining)

12. Merancang (designing)

13. Menciptakan (creating)

14. Menduga/membuat dugaan/ kesimpulan awal (hypothezing)

Selain tingkat kompetensi, penggunaan kata kerja menunjukan penekanan aspek yang diinginkan, mencakup sikap, pengetahuan, serta keterampilan. Pengembangan indikator harus mengakomodasi kompetensi sesuai tendensi yang digunakan SK dan KD. Jika aspek keterampilan lebih menonjol, maka indikator yang dirumuskan harus mencapai kemampuan keterampilan yang diinginkan. Klasifikasi kata kerja berdasarkan aspek kognitif, Afektif dan Psikomotorik disajikan dalam tabel 2, 3, dan 4.

Tabel 2 : Kata Kerja Ranah Kognitif

Pengetahuan

Pemahaman

Penerapan

Analisis

Sintesis

Penilaian

Mengutip

Menyebutkan

Menjelaskan

Menggambar

Membilang

Mengidentifikasi

Mendaftar

Menunjukkan

Memberi label

Memberi indeks

Memasangkan

Menamai

Menandai

Membaca

Menyadari

Menghafal

Meniru

Mencatat

Mengulang

Mereproduksi

Meninjau

Memilih

Menyatakan

Mempelajari

Mentabulasi

Memberi kode

Menelusuri

Menulis

Memperkirakan

Menjelaskan

Mengkategorikan

Mencirikan

Merinci

Mengasosiasikan

Membandingkan

Menghitung

Mengkontraskan

Mengubah

Mempertahankan

Menguraikan

Menjalin

Membedakan

Mendiskusikan

Menggali

Mencontohkan

Menerangkan

Mengemukakan

Mempolakan

Memperluas

Menyimpulkan

Meramalkan

Merangkum

Menjabarkan

Menugaskan

Mengurutkan

Menentukan

Menerapkan

Menyesuaikan

Mengkalkulasi

Memodifikasi

Mengklasifikasi

Menghitung

Membangun

Membiasakan

Mencegah

Menentukan

Menggambarkan

Menggunakan

Menilai

Melatih

Menggali

Mengemukakan

Mengadaptasi

Menyelidiki

Mengoperasikan

Mempersoalkan

Mengkonsepkan

Melaksanakan

Meramalkan

Memproduksi

Memproses

Mengaitkan

Menyusun

Mensimulasikan

Memecahkan

Melakukan

Mentabulasi

Memproses

Meramalkan

Menganalisis

Mengaudit

Memecahkan

Menegaskan

Mendeteksi

Mendiagnosis

Menyeleksi

Merinci

Menominasikan

Mendiagramkan

Megkorelasikan

Merasionalkan

Menguji

Mencerahkan

Menjelajah

Membagankan

Menyimpulkan

Menemukan

Menelaah

Memaksimalkan

Memerintahkan

Mengedit

Mengaitkan

Memilih

Mengukur

Melatih

Mentransfer

Mengabstraksi

Mengatur

Menganimasi

Mengumpulkan

Mengkategorikan

Mengkode

Mengombinasikan

Menyusun

Mengarang

Membangun

Menanggulangi

Menghubungkan

Menciptakan

Mengkreasikan

Mengoreksi

Merancang

Merencanakan

Mendikte

Meningkatkan

Memperjelas

Memfasilitasi

Membentuk

Merumuskan

Menggeneralisasi

Menggabungkan

Memadukan

Membatas

Mereparasi

Menampilkan

Menyiapkan Memproduksi

Merangkum

Merekonstruksi

Membandingkan

Menyimpulkan

Menilai

Mengarahkan

Mengkritik

Menimbang

Memutuskan

Memisahkan

Memprediksi

Memperjelas

Menugaskan

Menafsirkan

Mempertahankan

Memerinci

Mengukur

Merangkum

Membuktikan

Memvalidasi

Mengetes

Mendukung

Memilih

Memproyeksikan

Tabel 3. Kata Kerja Ranah Afektif

Menerima

Menanggapi

Menilai

Mengelola

Menghayati

Memilih

Mempertanyakan

Mengikuti

Memberi

Menganut

Mematuhi

Meminati

Menjawab

Membantu

Mengajukan

Mengompromikan

Menyenangi

Menyambut

Mendukung

Menyetujui

Menampilkan

Melaporkan

Memilih

Mengatakan

Memilah

Menolak

Mengasumsikan

Meyakini

Melengkapi

Meyakinkan

Memperjelas

Memprakarsai

Mengimani

Mengundang

Menggabungkan

Mengusulkan

Menekankan

Menyumbang

Menganut

Mengubah

Menata

Mengklasifikasikan

Mengombinasikan

Mempertahankan

Membangun

Membentuk pendapat

Memadukan

Mengelola

Menegosiasi

Merembuk

Mengubah perilaku

Berakhlak mulia

Mempengaruhi

Mendengarkan

Mengkualifikasi

Melayani

Menunjukkan

Membuktikan

Memecahkan

Tabel 4. Kata Kerja Ranah Psikomotorik

Menirukan

Memanipulasi

Pengalamiahan

Artikulasi

Mengaktifkan

Menyesuaikan

Menggabungkan

Melamar

Mengatur

Mengumpulkan

Menimbang

Memperkecil

Membangun

Mengubah

Membersihkan

Memposisikan

Mengonstruksi

Mengoreksi

Mendemonstrasikan

Merancang

Memilah

Melatih

Memperbaiki

Mengidentifikasikan

Mengisi

Menempatkan

Membuat

Memanipulasi

Mereparasi

Mencampur

Mengalihkan

Menggantikan

Memutar

Mengirim

Memindahkan

Mendorong

Menarik

Memproduksi

Mencampur

Mengoperasikan

Mengemas

Membungkus

Mengalihkan

Mempertajam

Membentuk

Memadankan

Menggunakan

Memulai

Menyetir

Menjeniskan

Menempel

Menseketsa

Melonggarkan

Menimbang

B. Menganalisis Karakteristik Mata Pelajaran, Peserta Didik, dan Sekolah

Pengembangan indikator mempertimbangkan karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah karena indikator menjadi acuan dalam penilaian. Sesuai Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005, karakteristik penilaian kelompok mata pelajaran adalah sebagai berikut.

Kelompok Mata Pelajaran

Mata Pelajaran

Aspek yang Dinilai

Agama dan Akhlak Mulia

Pendidikan Agama

Afektif dan Kognitif

Kewarganegaraan dan Kepribadian

Pendidikan Kewarganegaraan

Afektif dan Kognitif

Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Penjas Orkes

Psikomotorik, Afektif, dan Kognitif

Estetika

Seni Budaya

Afektif dan Psikomotorik

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Matematika, IPA, IPS

Bahasa, dan TIK.

Afektif, Kognitif, dan/atau Psikomotorik sesuai karakter mata pelajaran

Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu yang membedakan dari mata pelajaran lainnya. Perbedaan ini menjadi pertimbangan penting dalam mengembangkan indikator. Karakteristik mata pelajaran bahasa yang terdiri dari aspek mendengar, membaca, berbicara dan menulis sangat berbeda dengan mata pelajaran matematika yang dominan pada aspek analisis logis. Guru harus melakukan kajian mendalam mengenai karakteristik mata pelajaran sebagai acuan mengembangkan indikator. Karakteristik mata pelajaran dapat dikaji pada dokumen standar isi mengenai tujuan, ruang lingkup dan SK serta KD masing-masing mata pelajaran.

Pengembangkan indikator memerlukan informasi karakteristik peserta didik yang unik dan beragam. Peserta didik memiliki keragaman dalam intelegensi dan gaya belajar. Oleh karena itu indikator selayaknya mampu mengakomodir keragaman tersebut. Peserta didik dengan karakteristik unik visual-verbal atau psiko-kinestetik selayaknya diakomodir dengan penilaian yang sesuai sehingga kompetensi siswa dapat terukur secara proporsional. Sebagai contoh dalam mata pelajaran fisika terdapat indikator sebagai berikut:

1. Membuat model atom Thomson, Rutherford, dan Niels Bohr dengan menggunakan bahan kertas, steroform, atau lilin mainan.

2. Memvisualisasikan perbedaan model atom Thomson, Rutherford, dan Niels Bohr.

Indikator pertama tidak mengakomodir keragaman karakteristik peserta didik karena siswa dengan intelegensi dan gaya belajar visual verbal dapat mengekspresikan melalui cara lain, misalnya melalui lukisan atau puisi.

Karakteristik sekolah dan daerah menjadi acuan dalam pengembangan indikator karena target pencapaian sekolah tidak sama. Sekolah kategori tertentu yang melebihi standar minimal dapat mengembangkan indikator lebih tinggi. Termasuk sekolah bertaraf internasional dapat mengembangkan indikator dari SK dan KD dengan mengkaji tuntutan kompetensi sesuai rujukan standar internasional yang digunakan. Sekolah dengan keunggulan tertentu juga menjadi pertimbangan dalam mengembangkan indikator.

C. Menganalisis Kebutuhan dan Potensi

Kebutuhan dan potensi peserta didik, sekolah dan daerah perlu dianalisis untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan indikator. Penyelenggaraan pendidikan seharusnya dapat melayani kebutuhan peserta didik, lingkungan, serta mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Peserta didik mendapatkan pendidikan sesuai dengan potensi dan kecepatan belajarnya, termasuk tingkat potensi yang diraihnya.

Indikator juga harus dikembangkan guna mendorong peningkatan mutu sekolah di masa yang akan datang, sehingga diperlukan informasi hasil analisis potensi sekolah yang berguna untuk mengembangkan kurikulum melalui pengembangan indikator.

D. Merumuskan Indikator

Dalam merumuskan indikator perlu diperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut:

1. Setiap KD dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi tiga indikator

2. Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam kata kerja yang digunakan dalam SK dan KD. Indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal KD dan dapat dikembangkan melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik.

3. Indikator yang dikembangkan harus menggambarkan hirarki kompetensi.

4. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua aspek, yaitu tingkat kompetensi dan materi pembelajaran.

5. Indikator harus dapat mengakomodir karakteristik mata pelajaran sehingga menggunakan kata kerja operasional yang sesuai. Contoh kata kerja yang dapat digunakan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran tersaji dalam lampiran 1.

6. Rumusan indikator dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotorik.

E. Mengembangkan Indikator Penilaian

Indikator penilaian merupakan pengembangan lebih lanjut dari indikator (indikator pencapaian kompetensi). Indikator penilaian perlu dirumuskan untuk dijadikan pedoman penilaian bagi guru, peserta didik maupun evaluator di sekolah. Dengan demikian indikator penilaian bersifat terbuka dan dapat diakses dengan mudah oleh warga sekolah. Setiap penilaian yang dilakukan melalui tes dan non-tes harus sesuai dengan indikator penilaian.

Indikator penilaian menggunakan kata kerja lebih terukur dibandingkan dengan indikator (indikator pencapaian kompetensi). Rumusan indikator penilaian memiliki batasan-batasan tertentu sehingga dapat dikembangkan menjadi instrumen penilaian dalam bentuk soal, lembar pengamatan, dan atau penilaian hasil karya atau produk, termasuk penilaian diri.

Pengembangan indikator dapat menggunakan format seperti contoh berikut.

Kompetensi Dasar/Indikator

Indikator Penilaian

Bentuk

3.2 Mendeskripsikan perkembangan teori atom

· Mendeskripsikan karakteristik teori atom Thomson, Rutherford, Niels Bohr, dan mekanika kuantum

· Menghitung perubahan energi elektron yang mengalami eksitasi

· Menghitung panjang gelombang terbesar dan terkecil pada deret Lyman, Balmer, dan Paschen pada spectrum atom hidrogen

· Siswa dapat memvisualisasikan bentuk atom Thomson, Rutherford, dan Bohr

· Siswa dapat menunjukkan sikap kerjasama, minat dan kreativitas, serta komitmen melaksanakan tugas dalam kerja kelompok

· Siswa dapat menunjukkan kelemahan dari teori atom Thomson, Rutherford, atau Niels Bohr

· Siswa dapat menghitung energi dan momentum sudut electron berdasarkan teori atom Bohr

· Siswa dapat menghitung besar momentum sudut berdasarkan teori atom mekanika kuantum

· Siswa dapat menghitung panjang gelombang atau frekuensi terbesar dari deret Lyman, Balmer, atau Paschen

· Siswa dapat menerapkan konsep energi ionisasi, energi foton, dan/ atau energi foton berdasarkan data dan deskripsi elektron dalam atom.

Penilaian hasil karya/produk

Penilaian sikap

Tes tertulis

Tes tertulis

Tes tertulis

Tes tertulis

Tes tertulis

F. Manfaat Indikator Penilaian

Indikator Penilaian bermanfaat bagi :

  1. Guru dalam mengembangkan kisi-kisi penilaian yang dilakukan melalui tes (tes tertulis seperti ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester, tes praktik, dan/atau tes perbuatan) maupun non-tes.
  2. Peserta didik dalam mempersiapkan diri mengikuti penilaian tes maupun non-tes. Dengan demikian siswa dapat melakukan self assessment untuk mengukur kemampuan diri sebelum mengikuti penilaian sesungguhnya.
  3. Pimpinan sekolah dalam memantau dan mengevaluasi keterlaksanaan pembelajaran dan penilaian di kelas.
  4. Orang tua dan masyarakat dalam upaya mendorong pencapaian kompetensi siswa lebih maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Harrow, A. J. (1972). A taxonomy of the psychomotor domain: A guided for developing behavioral objective. New York: David Mc Key Company.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002). Jakarta: Balai Pustaka

Mardapi, Dj. dan Ghofur, A, (2004). Pedoman Umum Pengembangan Penilaian; Kurikulum Berbasis Kompetensi SMA. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum.

Mehrens, W.A, and Lehmann, I.J, (1991). Measurement and Evaluation in Education and Psychology. Fort Woth: Holt, Rinehart and Winston, Inc.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Jakarta: Fokus Media.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 14 tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, Jakarta, 2006.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, Jakarta, 2006.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2007. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 tentang tentang Standar Penilaian Pendidikan.

Popham,W.J., (1999). Classroon Asessment: What teachers need to know. Mass: Allyn-Bacon.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Fokus Media.

Lampiran 1

Contoh Kata Kerja Operasional

Sesuai dengan Karakteristik Matapelajaran

Berhubungan dengan Prilaku Sosial

§ Menerima (accept)

§ Mengakui/menerima sesuatu (admit)

§ Menyetujui (agree)

§ Membantu (aid)

§ Membolehkan/menyediakan/memberikan (allow)

§ Menjawab (answer)

§ Menjawab/mengemukakan pendapat dengan alasan-alasan (argue)

§ Mengkomunikasikan (communicate)

§ Memberi pujian/mengucapkan selamat (compliment)

§ Menyumbang (contribute)

§ Bekerjasama (cooperate)

§ Berdansa (dance)

§ Menolak /menidaksetujui (disagree)

§ Mendiskusikan (discuss)

§ Memaafkan (excuse)

§ Memaafkan (forgive)

§ Menyambut/menyalami (greet)

§ Menolong/membantu (help)

§ Berinteraksi/melakukan interaksi (interact)

§ Mengundang (invite)

§ Menggabung (joint)

§ Menertawakan (laugh)

§ Menemukan (meet)

§ Berperanserta (participate)

§ Mengizinkan/membolehkan (permit)

§ Memuji-muji (praise)

§ Bereaksi (react)

§ Menjawab/menyahut (reply)

§ Tersenyum (smile)

§ Berbicara (talk)

§ Berterimakasih (thank)

§ Berkunjung (visit)

§ Bersukarela (volunteer)


Berhubungan dengan Kompetensi Berpikir tingkat Tinggi

(complex, logical, judgmental behaviors)

§ Menganalisis (analyze)

§ Menghargai (appraise)

§ Menilai (assess)

§ Mengkombinasikan (combine)

§ Membandingkan (compare)

§ Menyimpulkan (conclude)

§ Mengkontraskan (contrast)

§ Mengkritik (critize)

§ Menarik kesimpulan (deduce)

§ Membela/mempertahankan (defend)

§ Menunjukkan / menandakan (designate)

§ Menentukan (determine)

§ Mencari /menjelajah (discover)

§ Mengevaluasi (evaluate)

§ Merumuskan (formulate)

§ Membangkitkan/menghasilkan/menyebabkan (generate)

§ Membujuk/menyebabkan (induce)

§ Menduga/Mengemukan pendapat/mengambil kesimpulan (infer)

§ Merencanakan (plan)

§ Menyusun (structure)

§ Menggantikan (substitute)

§ Menyarankan (suggest)

§ Memilih (choose)

§ Mengumpulkan (collect)

§ Mendefinisikan (define)

§ Menjelaskan sesuatu (describe)

§ Mendeteksi (detect)

§ Membedakan antara 2 macam (differentiate)

§ Membedakan/Memilih-milih (discriminate)

§ Membedakan sesuatu (distinguish)

§ Mengidentifikasi (identify)

§ Mengindikasi (indicate)

§ Mengisolasi (isolate)

§ Mendaftarkan (list)

§ Memadukan (match)

§ Meniadakan (omit)

§ Mengurutkan (order)

§ Mengambil (pick)

§ Menempatkan (place)

§ Menunjuk (point)

§ Memilih (select)

§ Memisahkan (separate)


Berhubungan dengan Kompetensi Musik (seni)

§ Meniup (blow)

§ Menundukkan kepala (bow)

§ Bertepuk (clap)

§ Menggubah /menyusun (compose)

§ Menyentuh (finger)

§ Memadankan/berpadanan (harmonize)

§ Menyanyi kecil/bersenandung (hum)

§ Membisu (mute)

§ Memainkan (play)

§ Memetik (misal gitar) (pluck)

§ Mempraktikkan (practice)

§ Menyanyikan (sing)

§ Memetik/mengetuk-ngetuk (strum)

§ Mengetuk (tap)

§ Bersiul (whistle)


Berhubungan dengan Kompetensi Berbahasa

§ Menyingkat/memendekkan (abbreviate)

§ Memberi tekanan pada sesuatu /menekankan (accent)

§ Mengabjad/menyusun menurut abjad (alphabetize)

§ Mengartikulasikan/ mengucapkan kata-kata dengan jelas (articulate)

§ Memanggil (call)

§ Menulis dengan huruf besar (capitalize)

§ Menyunting/mengedit (edit)

§ Menghubungkan dengan garis penghubung (hyphenate)

§ Memasukkan (beberapa spasi) /melekukkan (indent)

§ Menguraikan/memperlihatkan garis bentuk/ menggambar denah atau peta (outline)

§ Mencetak (print)

§ Membaca (read)

§ Mendeklamasikan/membawakan/mencerita-kan (recite)

§ Mengatakan (say)

§ Menandai (sign)

§ Berbicara (speak)

§ Mengeja (spell)

§ Menyatakan (state)

§ Menyimpulkan (summarize)

§ Membagi atas suku-suku kata (syllabicate)

§ Menceritakan (tell)

§ Menerjemahkan (translate)

§ Mengungkapkan dengan kata-kata (verbalize)

§ Membisikkan (whisper)

§ Mengucapkan/melafalkan/menyatakan (pronounce)

§ Memberi atau membubuhkan tanda baca (punctuate)

§ Menulis (write)


Berhubungan dengan Kompetensi Drama

§ Berakting/berperilaku (act)

§ Menjabat/mendekap/ menggengam (clasp)

§ Menyeberang/melintasi/ berselisih (cross)

§ Menunjukkan/mengatur/ menyutradarai (direct)

§ Memajangkan (display)

§ Memancarkan (emit)

§ Memasukkan (enter)

§ Mengeluarkan (i

§ Mengekspresikan (express)

§ Meniru (imitate)

§ Meninggalkan (leave)

§ Menggerakkan (move)

§ Berpantomim/Meniru gerak tanpa suara (pantomime)

§ Menyampaikan/menyuguhkan/ mengulurkan/melewati (pass)

§ Memainkan/melakukan (perform)

§ Meneruskan/memulai/beralih (proceed)

§ Menanggapi/menjawab/ menyahut (respond)

§ Memperlihatkan/Menunjukkan (show)

§ Mendudukkan (sit)

§ Membalik/memutar/mengarahkan/mengubah/ membelokkan (turn)


Berhubungan dengan Kompetensi Seni Lukis

§ Memasang (assemble)

§ Mencampur (blend)

§ Menyisir/menyikat (brush)

§ Membangun (build)

§ Mengukir (carve)

§ Mewarnai (color)

§ Mengkonstruk/membangun(construct)

§ Memotong (cut)

§ Mengoles (dab)

§ Menerangkan (dot)

§ Menggambar (draw)

§ Mengulang-ulang/melatih (drill)

§ Melipat (fold)

§ Membentuk (form)

§ Menggetarkan/memasang (frame)

§ Memalu (hammer)

§ Menangani (handle)

§ Menggambarkan (illustrate)

§ Mencairkan (melt)

§ Mencampur (mix)

§ Memaku (nail)

§ Mengecat (paint)

§ Menepuk (pat)

§ Menggosok (polish)

§ Menuangkan (pour)

§ Menekan (press)

§ Menggulung (roll)

§ Menggosok/ menyeka (rub)

§ Menggergaji (saw)

§ Memahat (sculpt)

§ Menyampaikan/melempar (send)

§ Mengocok (shake)

§ Membuat sketsa (sketch)

§ Menghaluskan (smooth)

§ Mengecap/menunjukkan (stamp)

§ Melengketkan (stick)

§ Mengaduk (stir)

§ Meniru/menjiplak (trace)

§ Menghias/memangkas (trim)

§ Merengas/memvernis (varnish)

§ Melekatkan/menempelkan/merekatkan (paste)

§ Menyeka/menghapuskan/ membersihkan (wipe)

§ Membungkus (wrap)



Berhubungan dengan Kompetensi Fisik (Jasmani)

§ Melengkungkan (arch)

§ Memukul (bat)

§ Menekuk/melipat/ membengkokkan (bend)

§ Mengangkat/membawa (carry)

§ Menangkap (catch)

§ Mengejar/memburu (chase)

§ Memanjat (climb)

§ Menghadap (face)

§ Mengapung (float)

§ Merebut/menangkap/ mengambil (grab)

§ Merenggut/memegang/ menyambar/merebut (grasp)

§ Memegang erat-erat (grip)

§ Memukul/menabrak (hit)

§ Melompat/meloncat (hop)

§ Melompat (jump)

§ Menendang (kick)

§ Mengetuk (knock)

§ Mengangkat/mencabut i

§ Berbaris (march)

§ Melempar/memasangkan/memancangkan/menggantungkan (pitch)

§ Menarik (pull)

§ Mendorong (push)

§ Berlari (run)

§ Mengocok (shake)

§ Bermain ski (ski)

§ Meloncat (skip)

§ Berjungkirbalik (somersault)

§ Berdiri (stand)

§ Melangkah (step)

§ Melonggarkan/merentangkan (stretch)

§ Berenang (swim)

§ Melempar (throw)

§ Melambungkan/melontarkan (toss)

§ Berjalan (walk)


Berhubungan dengan Perilaku Kreatif

§ Mengubah (alter)

§ Menanyakan (ask)

§ Mengubah (change)

§ Merancang (design)

§ Menggeneralisasikan (generalize)

§ Memodifikasi (modify)

§ Menguraikan dengan kata-kata sendiri (paraphrase)

§ Meramalkan (predict)

§ Menanyakan (question)

§ Menyusun kembali (rearrange)

§ Mengkombinasikan kembali (recombine)

§ Mengkonstruk kembali (reconstruct)

§ Mengelompokkan kembali (regroup)

§ Menamakan kembali (rename)

§ Menyusun kembali (reorder)

§ Mengorganisasikan kembali (reorganize)

§ Mengungkapkan kembali (rephrase)

§ Menyatakan kembali (restate)

§ Menyusun kembali (restructure)

§ Menceritakan kembali (retell)

§ Menuliskan kembali (rewrite)

§ Menyederhanakan (simplify)

§ Mengsintesis (synthesize)

§ Mengsistematiskan (systematize)


Berhubungan dengan Kompetensi Matematika

§ Menambah (add)

§ Membagi dua (bisect)

§ Menghitung/mengkalkulasi (calculate)

§ Mencek/meneliti (check)

§ Membatasi (circumscribe)

§ Menghitung/mengkomputasi (compute)

§ Menghitung (count)

§ Memperbanyak (cumulate)

§ Mengambil dari (derive)

§ Membagi (divide)

§ Memperkirakan (estimate)

§ Menyarikan/menyimpulkan (extract)

§ Memperhitungkan (extrapolate)

§ Membuat grafik (graph)

§ Mengelompokkan (group)

§ Memadukan/mengintegrasikan (integrate)

§ Menyisipkan/menambah (interpolate)

§ Mengukur (measure)

§ Mengalikan/memperbanyak (multiply)

§ Menomorkan (number)

§ Membuat peta (plot)

§ Membuktikan (prove)

§ Mengurangi (reduce)

§ Memecahkan (solve)

§ Mengkuadratkan(square)

§ Mengurangi (substract)

§ Menjumlahkan (sum)

§ Mentabulasi (tabulate)

§ Mentally (tally)

§ Memverifikasi (verify)


Berhubungan dengan Kompetensi Sains

§ Menjajarkan (align)

§ Menerapkan (apply)

§ Melampirkan (attach)

§ Menyeimbangkan (balance)

§ Mengkalibrasi (calibrate)

§ Melaksanakan (conduct)

§ Menghubungkan (connect)

§ Mengganti (convert)

§ Mengurangi (decrease)

§ Mempertunjukkan/memperlihatkan (demonstrate)

§ Membedah (dissect)

§ Memberi makan (feed)

§ Menumbuhkan (grow)

§ Menambahkan/meningkatkan (increase)

§ Memasukkan/menyelipkan (insert)

§ Menyimpan (keep)

§ Memanjangkan (lenghthen)

§ Membatasi (limit)

§ Memanipulasi (manipulate)

§ Mengoperasikan (operate)

§ Menanamkan (plant)

§ Menyiapkan (prepare)

§ Memindahkan(remove)

§ Menempatkan kembali(replace)

§ Melaporkan (report)

§ Mengatur ulang (reset)

§ Mengatur (set)

§ Menentukan/menetapkan (specify)

§ Meluruskan (straighten)

§ Mengukur waktu (time)

§ Mentransfer (transfer)

§ Membebani/memberati (weight)



Berhubungan dengan Kompetensi Umum, Kesehatan, dan Keamanan

§ Mengancingi (button)

§ Membersihkan (clean)

§ Menjelaskan (clear)

§ Menutup (close)

§ Menyikat/menyisir(comb)

§ Mencakup (cover)

§ Mengenakan/menyarungi (dress)

§ Minum (drink)

§ Makan (eat)

§ Menghapus (eliminate)

§ Mengosongkan (empty)

§ Mengetatkan/melekatkan (fasten)

§ Mengisi/memenuhi/melayani /membuat (fill)

§ Melintas/berjalan (go)

§ Mengikat tali/menyusuri (lace)

§ Menumpuk/menimbun (stack)

§ Menghentikan (stop)

§ Merasakan (taste)

§ Mengikat/membebat (tie)

§ Tidak mengancingi (unbutton)

§ Membuka/menanggalkan (uncover)

§ Menyatukan (unite)

§ Membuka (unzip)

§ Menunggu (wait)

§ Mencuci (wash)

§ Memakai (wear)

§ Menutup (zip)

Previous Older Entries